Google VS Oracle : Android

Oracle VS Google

Oracle menggempur kekuatannya untuk melawan Google, raksasa dunia maya, menggunakan perkara hukum. Sistem operasi milik Google, Android, dianggapnya melanggar tujuh paten milik Java dan mesin virtualnya, Dalvik. Google memutuskan untuk tidak bergeming mengenai masalah ini.

“Kami kecewa Oracle telah memilih untuk menyerang baik Google maupun komunitas open-source Java dengan perkara hukum yang tidak berdasar.” Ujar Google memberikan pernyataan. “Komunitas open-source Java sudah melampaui berbagai perusahaan dan bekerja setiap harinya untuk menjadikan situs sebagai tempat yang lebih baik. Kami akan dengan tegas berpihak kepada standar open-source dan akan terus berkreasi di industri ini dan mengembangkan platform Android.”

Perkara hukum ini sendiri berkutat di sekitar platform Java, yang diakuisisi Oracle saat mereka membeli Sun Microsystems di awal tahun ini. Argumen Oracle memang cukup jelas : Google secara langsung dan berulang melanggar properti intelektual milik Oracle yang berhubungan dengan Java, dengan memanfaatkannya dalam sistem operasi Android dan Android SDK.

Google memposisikan penyerangan ini sebagai tindakan yang menyerang komunitas besar (banyak pengembang yang sudah memberikan respon negatif terhadap perkara Oracle). Sebagai ayah dari Java yang meninggalkan Sun segera setelah diakuisisi Oracle, James Gosling menulis di blognya bahwa Oracle memang sudah menaruh perhatian terhadap hak paten dari Java sebagai bagian dari akuisisi.

Google pun berpendapat bahwa mereka tidak melakukan pelanggaran paten karena Java sendiri sejak awal merupakan software yang bersifat open-source; Google bahkan menyinggung standar open-source tiga kali dalam pernyataan mereka mengenai masalah ini. Sun telah meluncurkan kebanyakan kode Java sebagai software open-source sejak tahun 2006.

Perkara hukum yang baru diajukan sekarang, sementara Android telah diperkenalkan ke khalayak ramai semenjak 3 tahun lalu menimbulkan suatu tanda tanya. Tampaknya masalah tingginya biaya tuntutan hukum mengenai hak paten menjadi salah satu penyebabnya – tidak hanya membutuhkan jutaan dolar untuk penelitian dan biaya hukum, belum lagi waktu yang cukup signifikan yang dibutuhkan sang perusahaan untuk mengejar tuntutan mengenai hak paten tersebut. Sun membutuhkan Oracle yang memiliki kekuatan finansial yang lebih besar dan pengalaman ekstra mengenai hak paten.